Senin, 10 September 2012

Bahasa Indonesia: Dulu dan Kini

Dahulu dibanggakan, sekarang disalahgunakan, kelak di kemudian hari hanya sebagai kenangan.

Begitu membaca “kalimat yang tidak lengkap” tersebut, mungkin dalam benak pembaca akan terlintas prasangka bahwa orang yang menulisnya adalah seorang pembenci bahasa. “Mengapa muncul ekspektasi yang sedemikian buruk terhadap bahasa milik bangsa sendiri?”. Namun, di samping kalimat tersebut yang (mungkin) terasa agak kasar untuk diucapkan, sesungguhnya kalimat tersebut cukup realistis dikemukakan berdasarkan fakta empiris dewasa ini.
Dahulu, Bahasa Indonesia, yang memiliki nilai historis dan sarat makna itu, sangat dibanggakan oleh seluruh elemen bangsa ini. Terlepas dari masih banyaknya misteri terkait sejarah terciptanya Bahasa Indonesia itu sendiri, bahasa negara kita tersebut -pada era sebelum sekarang ini- terbukti sangat dicintai oleh penggunanya. Sebagai buktinya, penulis merasa terhormat untuk menampilkan kutipan sebagian hasil Kongres Pemuda II berikut, yang lebih familiar di telinga kita sebagai Sumpah Pemuda.


Dalam teks tersebut, secara jelas dinyatakan bahwa putra dan putri Indonesia menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Penulis melihat bahwa penggunaan kata “menjunjung” di sini sudah tepat, dan "dalam" sekali maknanya. Hal ini mungkin karena kalimat tersebut dibuat oleh orang-orang yang benar-benar ikhlas, tanpa suatu tendensi pribadi, berjuang untuk mempersatukan Indonesia.
Kata kerja “menjunjung” dalam kalimat tersebut dapat berarti bahwa sebagai rakyat Indonesia kita menghormati Bahasa Indonesia, di samping tetap melestarikan bahasa daerah masing-masing. Artinya, apabila pada waktu itu ada pertemuan yang dihadiri berbagai suku, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia guna mempermudah pemahaman sekaligus mempererat persatuan.
Selain itu, kata kerja “menjunjung” juga dapat berarti kita harus khidmat, memuliakan, dan menaati Bahasa Indonesia. Maksudnya, ketika menggunakan Bahasa Indonesia kita sudah semestinya memperhatikan kaidah yang berlaku, terutama dalam hal yang berbau akademis. Hal ini bukan berarti kita orang yang kaku, tetapi lebih berarti bahwa kita menghargai Sumpah Pemuda sebagai salah faktor dominan sehingga kita berada dalam keadaan tidak terjajah seperti sekarang ini.
Namun, jika kita mengamati peristiwa yang terjadi sekarang ini, khususnya dalam dunia akademis, yang tentunya paling layak dan logis untuk merepresentasikan kondisi kemajuan bangsa di masa yang akan datang, kita akan mendapati suatu hal yang sangat memprihatinkan.
Sebagai tenaga pengajar, guru hendaknya sudah terbiasa melazimkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar khususnya ketika mengajar. Akan tetapi, sekarang ini jumlah guru yang menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar mungkin dapat dihitung dengan jari. Padahal, di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Dalam buku-buku penulis lainnya yang peduli akan pentingnya Bahasa Indonesia juga banyak yang mengungkapkan fungsi tersebut.
Mahasiswa dan pelajar juga setali tiga uang dengan gurunya. Mulai dari dialog sehari-hari, debat, menulis jawaban ujian, bahkan yang lebih parah dalam penulisan karya ilmiah sebagai syarat kelulusan suatu jenjang pendidikan, Bahasa Indonesia yang digunakan sungguh amburadul. Padahal, jika ditanya perihal grammar dalam Bahasa Inggrisnya, mereka sudah sangat fasih. Seakan civitas akademika sekarang ini lebih peduli terhadap bahasa orang lain daripada bahasa sendiri.
Apakah sedemikian hebatnya implikasi dari globalisasi dan modernisasi sehingga dapat dijadikan alasan untuk tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar (pada tempatnya)? Lantas bagaimana dengan pengorbanan dan perjuangan pahlawan untuk membuat Bahasa Indonesia itu sendiri?
Penulis merasa pembahasan mengenai topik tersebut sudah lebih dari cukup. Terlepas dari banyaknya fakta memprihatinkan dalam tulisan tersebut, hal inti yang ingin penulis sampaikan adalah mari kita cintai Bahasa Indonesia kita. Bahasa yang terlahir dengan semangat keikhlasan para pejuang. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, mulai dari waktu sekarang ini, khususnya bagi segenap civitas akademika. Sudah sejak zaman sekolah dasar kita telah diajarkan bahwa bahasa menunjukkan jati diri bangsa. Namun, kita mungkin jarang diingatkan bahwa yang lebih penting adalah bahasa menunjukkan siapa diri kita. Kita sudah bukan anak kecil lagi bukan? :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar