Senin, 30 April 2012

Kompleksitas Manusia

Setiap individu memiliki tingkatan emosi dan ego yang berbeda. Kedewasaan dalam mengendalikan ego dan emosi dapat merubah persepsi serta interpretasi orang lain atas sifat dan sikap personal kita. Sebuah ikatan emosional dalam suatu hubungan interpersonal seharusnya dilandasi komitmen, kejujuran dan kepercayaan yang masing-masing tidak bisa dipilah secara atomistik, melainkan secara holistik. Ketika komitmen disepakati, kejujuran menaungi, dengan sendirinya akan tumbuh kepercayaan. Hipotesis awal tingkat efektivitas hubungan interpersonal ini dapat diukur dengan pengalaman empiris dari ketiga hal tersebut. Namun, realita yang tersaji seringkali menimbulkan bias, bahkan tidak jarang sangat kontras dengan ekspektasi awal kita. Tidak dapat dipungkiri bahwa naluri alamiah membuat kita ingin dilihat sebagai sosok yang sempurna oleh orang lain.
Ironisnya, kita seakan-akan rela melakukan apapun untuk mencapainya, sekalipun dengan melakukan kebohongan secara eksplisit maupun secara implisit. Kebenaran itu mutlak, tapi benar dan salah itu relatif. Berusaha untuk tidak menghakimi orang lain, mungkin itu salah satu kuncinya. Berusaha meyelami pikiran serta gejolak emosi yang sedang dialami lawan bicara kita. Membalikkan situasi dengan memposisikan diri kita sebagai orang lain kadang menjadi cara termudah untuk memahaminya, meski tidak selalu tepat, karena setiap pribadi itu unik.
Setiap manusia memiliki kompleksitas yang sulit diduplikasi dan mustahil dapat terpahami sepenuhnya. Karena itulah komunikasi yang efektif dan benar menjadi sangat mutlak diperlukan oleh manusia, karena mereka tak bisa memahami sesuatu yang tak mereka alami dan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Menyatukan sudut pandang, mendengar pendapat, dan saling mentoleransi perbedaan. Suatu hal yang terlihat rumit, kadang membingungkan, seolah menambah masalah baru, akan tetapi merupakan salah satu kunci memahami dan secara otomatis sangat membantu menghadapi kompleksitas manusia.

Pemuda dalam Pergeseran Nilai Sosial-Budaya Dewasa Ini

A. Prolog
Arus modernisasi dan globalisasi membawa pengaruh signifikan bagi kehidupan manusia. Entah itu positif atau negatif, progress atau regress, modernisasi dan globalisasi mendorong terjadinya perubahan hampir di seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali aspek sosial dan budaya (socio – cultural). Dari sinilah setiap bangsa dan negara di dunia menghadapi kewajiban ganda, yakni melestarikan warisan budaya bangsa dan membangun kebudayaan nasional yang modern. Bagi Indonesia, tujuan akhir dari kedua usaha ini adalah untuk mencapai suatu masyarakat modern yang sesuai dengan tipikal bangsa Indonesia, artinya masyarakat yang tidak hanya mampu membangun dirinya sederajat dengan bangsa lain, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan kemerosotan mutu lingkungan hidup akibat arus ilmu dan teknologi modern maupun dalam menghadapi tren global. Menarik untuk dianalisa adalah bagaimana peran, fungsi, dan kedudukan pemuda dalam menghadapi perubahan sosio-cultural akibat arus modernisasi dan globalisasi.
Ambil contoh banyaknya kasus kriminal yang hampir selalu melibatkan pemuda didalamnya, seperti pencurian, narkoba, trafficking, pelecehan seksual, perkosaan, free-sex, aborsi, hamil diluar nikah, dan lain sebagainya. Masalah sosial budaya adalah sebuah gejala atau fenomena yang muncul dalam realitas kehidupan; yakni suatu kondisi yang tidak diinginkan sebagian besar warga masyarakat karena tidak sesuai dengan harapan dan nilai. Hampir sama dengan itu, patologi sosial adalah suatu gejala dimana tidak ada persesuaian antara berbagai unsur dari suatu keseluruhan, keadaan yang merintangi pemuasan keinginan fundamental dari anggota masyarakat. Fenomena di atas menunjukkan betapa kronis dekadensi dan degradasi moral pemuda saat ini. Seolah-olah hal semacam itu menjadi normatif di mata masyarakat. Disadari atau tidak, masyarakat digiring pada sikap permissive dalam segala hal, meski mereka tahu tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial. Kemudian solusi alternatif apakah yang diberikan oleh Islam dalam mengatasi dan menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi oleh pemuda saat ini?
B. Transformasi Sosial-Budaya
Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat baik berupa sifat maupun perilaku hingga meliputi perkembangannya , sedangkan budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Dilihat dari proses untuk melakukan studi masalah sosial-budaya maupun upaya penanganan masalahnya, dikenal adanya tiga tahap: identifikasi, diagnosis, dan treatment. Tahap identifikasi merupakan tahap untuk membuka kesadaran dan keyakinan, dengan memberikan awareness, dan mengubah masalah sosial latent menjadi manifest. Tahap diagnosis merupakan tahap untuk mencari dan mempelajari latar belakang masalah, faktor yang terkait yang menjadi sumber masalah. Sedangkan tahap treatment merupakan tahap upaya pemecahan masalah sosial yang didasari dari hasil tahap diagnosis. Kebudayaan mengalami perubahan yang sejalan dengan perkembangan manusia dan dimaksudkan untuk kepentingan manusia sendiri, karena kebudayaan diciptakan oleh, dari, dan untuk manusia. Perubahan sosial merupakan ciri khas semua masyarakat dan kebudayaan, baik tradisional maupun modern, yang tidak dapat dilepaskan dari perubahan kebudayaan, karena kebudayaan merupakan hasil rekayasa yang diciptakan oleh masyarakat sosial. Tidak akan ada kebudayaan apabila tidak ada masyarakat yang mendukungnya, tidak ada satupun masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan.
Transformasi adalah perubahan rupa baik berupa bentuk maupun sifat , dari suatu sistem dan struktur sosial budaya tradisional atau lama menjadi bentuk baru yang lebih modern. Terdapat satu proses modifikasi pola dan bentuk pada peri kelakuan masyarakat baik itu materil-moril. Dengan demikian, transformasi sosio-cultural merupakan proses kausal terjadinya perubahan pada struktur budaya, struktur sosial, dan struktur teknik yang didukung adanya sentimen kolektif dalam struktur internal umat yang didasari oleh iman. Adapun tanda-tanda perubahan sosial-budaya diantaranya yaitu:
(1) differential social organization atau perbedaan organisasi sosial;
(2) individualism politic-economy atau individu yang berorientasi ekonomi-politik;
(3) mobility; dan
(4) culture conflict atau konflik budaya.
Dalam pemikiran Islam sendiri, perubahan sosial-budaya itu berkelut dalam tiga hal:
1. Konsep Westernisasi (al-fikrah at-taghriby), konsep yang menginginkan penyesuaian Islam dengan pemikiran Barat dalam berbagai aspeknya, sebagai contoh gerakan Islamisasi ala Kamar Ataturk.
2. Konsep Modernisasi (al-fikrah at-tajaddudi), konsep yang ingin mengadakan pembaruan-pembaruan dalam pemahaman, penafsiran, dan perumusan masalah-masalah Islam, dengan pretensi ingin mengaktualisasikan Islam dalam kehidupan modern, hal ini ditandai dengan membuka pintu ijtihad selebar-lebarnya.
3. Konsep Reformis (al-fikrah at-tajdidi), konsep yang ingin memperbarui Islam dengan Islam, contoh model pemikiran ini adalah pemikiran model Ibn Taimiyah yang sekarang mulai mencuat kembali.
C. Genealogi Pemuda
Umumnya, pengertian kaum muda dihubungkan dengan kategori usia yang secara biologis terletak di antara masa anak-anak dan dewasa yang mana (dalam keluarga) masa anak-anak sangat bergantung dan masa dewasa mulai mandiri adalah periode masa transisi untuk mempersiapkan diri lepas dari keluarga. Talcott Parsons menyatakan bahwa tepatnya tidak semata-mata karena faktor usia, melainkan kategori kaum muda merupakan suatu perubahan konstruksi sosial dan budaya terhadapnya muncul pada suatu peristiwa waktu dan di dalam kondisi tertentu pula. Pemuda sejatinya adalah orang muda (para remaja, pelajar, mahasiswa, dan lain sebagainya yang memiliki jiwa muda), sebagai generasi penerus dari golongan yang tua dan sebagai harapan bangsa. Pola dasar pembinaan dan pembangunan generasi muda ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No: 0323/U/1978 tanggal 28 Oktober 1978 yang disusun berlandaskan:
1) Landasan Idiil : Pancasila
2) Landasan Konstitusional : Undang-Undang Dasar 1945
3) Landasan Strategi : Garis-Garis Besar Haluan Negara
4) Landasan Historis : Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 5) Landasan Normatif : Etika, tata nilai, tradisi luhur yang hidup dalam masyarakat.
Motivasi asas pembinaan dan pengembangan generasi muda ini bertumpu pada strategi pencapaian tujuan nasional sebagaimana yang disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV. Pemuda tidak dapat terlepas dari potensi dan masalah pribadi masing-masing individu yang sangat kompleks. Artinya, pemuda memiliki kepribadian dan karakter ganda yang mustahil dipisahkan satu sama lain. Implikasi yang muncul berupa paradigma positif dan negatif. Sisi positif berupa potensi dan bakat, sisi negatif berupa masalah dan watak. Ada perubahan keadaan sosial dan budaya terhadap kaum muda dalam keluarga. Secara logis, memang dengan semakin banyak dan beragamnya sarana-sarana yang menunjang hidup di dalam kolektivitas (akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi) akan berakibat pada bertambah panjangnya periode kaum muda di dalam mengarungi identitasnya. Kaum muda ini berada pada tahapan yang mengandung unsur mengambang dan kebimbangan kategori yang pada masing-masing masyarakat ada perbedaan dalam persetujuan dan terdapat fragmentasi dalam bersikap pada suatu masyarakat yang sama.
Diantara potensi dan bakat yang dimiliki pemuda yakni: idealisme dan daya kritis; dinamika kreatifitas; keberanian mengambil resiko; optimis dan kegairahan semangat; kemandirian dan disiplin murni; terdidik; plural dalam persatuan dan kesatuan; patriotisme dan nasionalisme; sikap ksatria; dan kemampuan penguasaan ilmu serta teknologi. Adapun masalah dan watak yang ditemukan pemuda antara lain: menurunnya jiwa idealisme, patriotisme, dan nasionalisme; pergaulan bebas; kenakalan remaja yang akut dan belum adanya peraturan perundangan yang menyangkut generasi muda. Selain itu juga karena sikap dan sifat pemuda yang egois dan skeptis menciptakan efek domino berupa ethnocentrism, primordialism, dan hedonism.

D. Budaya Pop dan Subkultur
Arus modernisasi globalisasi membawa implikasi berupa budaya pop dan subkultur dalam kehidupan pemuda. Infiltrasi nilai-nilai sosial budaya yang tidak mampu membedakan antara positif-negatif akhirnya membawa masalah baru berupa semakin kaburnya identitas diri suatu bangsa. Proses akulturasi-asimilasi antara budaya tradisional dengan modern menciptakan social gap bagi kehidupan suatu bangsa. Budaya pop secara sederhana dapat artikan sebagai teks-teks publik yang sudah tersebar luas (bersifat umum) antara gugus makna dan praktek yang diproduksi telah merakyat atau ‘populer’ . ‘Populer’ dalam konteks socio-cultural telah melintasi batasan-batasan yang digariskan oleh kekuasaan budaya, sekaligus menguak karakter dan cara menentang pandangan yang mengkontraskan antara high culture dengan low culture. Subkultur secara ringkas dapat dimaknai sebagai kelompok minor yang dilabeli dengan berbagai nilai-nilai dan norma-norma yang berbeda dari yang dianut oleh kelompok dominan dalam masyarakat. Hal ini menciptakan dan menawarkan peta makna yang membuat dunia jadi ‘lebih masuk akal’ (intelligible) bagi para anggotanya. Konsep budaya pop dan subkultur merupakan hal berdaya mobilitas (karena mengkonstitusi objeknya dari suatu studi) berupa suatu istilah klasifikatori yang mencoba memetakan dunia sosial di dalam suatu tindakan terhadap representasi.
E. Epilog
Transformasi sosial-budaya yang diakibatkan oleh globalisasi dan modernisasi dewasa ini, mungkin Ilmu Sosial Profetik dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif jawaban yang cukup masuk akal. Dalam konteks Islam, pemuda merupakan salah satu elemen dalam masyarakat yang seharusnya mampu berperan aktif dalam hidup dan kehidupannya di suatu masyarakat sosial. Sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur'an:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Q.s. Ali Imran [3]: 110).
Potongan ayat 1-3 surat Ali Imron di atas merupakan landasan dari Sosial Profetik, yakni ilmu sosial yang digali dari nilai-nilai agama, tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi dilakukan, untuk apa dan oleh siapa; ilmu sosial yang mampu mengubah fenomena berdasarkan cita-cita etik tertentu, yakni kemanusiaan, liberasi, dan trasendensi. Dari ayat di atas terdapat tiga unsur etika profetik: humanisasi, liberasi, dan trasendensi yang merupakan derivasi dari sistem nilai yang terdapat pada kata amar ma’ruf, nahi munkar dan tu’minu billah. Ketiga unsur ini dijadikan pijakan dalam merumuskan ilmu sosial profetik sebagai paradigma baru umat Islam dalam memasuki periode transformasi socio-cultural.
1. Humanisasi
Dalam bahasa agama, konsep humanisasi merupakan terjemahan kreatif dari amar al-ma’ruf, yang makna asalnya adalah menganjurkan atau menegakkan kebajikan. Amar al-Ma’ruf dimaksudkan untuk mengangkat dimensi dan potensi positif (ma’ruf) manusia untuk mengemansipasi manusia kepada nur atau cahaya Ilahi dalam rangka mencapai keadaan fitrah. Dalam bahasa ilmu, humanisasi artinya memanusiakan manusia, menghilangkan ‘kebendaan’, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia yang berakar pada humanisme-teosentris, artinya manusia harus memusatkan diri pada Allah dengan tujuan untuk kepentingan manusia sendiri. Humanisasi diperlukan karena masyarakat sedang berada dalam keadaan akut, yaitu: dehumanize, aggressive, dan loneliness.
2. Liberasi
Dalam bahasa agama, nahi munkar berarti melarang atau mencegah segala tindak kejahatan yang merusak. Sedang dalam bahasa ilmu (bukan konteks ideologis), nahi munkar berarti pembebasan dari kebodohan, kemiskinan, ataupun penindasan. Empat sasaran liberasi yaitu: sistem pengetahuan, sistem bahasa, sistem ekonomi dan sistem politik yang membelenggu manusia sehingga tidak dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang merdeka dan mulia.
3. Transendensi
Transendensi adalah konsep yang diderivasikan dari tu’minu billah atau beriman kepada Allah, merupakan unsur terpenting dari ajaran sosial Islam yang terkandung dalam ilmu sosial profetik sekaligus menjadi dasar dari humanisasi dan liberasi. Dalam memaknai trasendensi terdapat tiga perspektik global: (1) mengakui ketergantungan manusia kepada penciptanya; (2) mengakui adanya kontinuitas dan ukuran bersama antara Tuhan dan manusia; dan (3) mengakui keunggulan norma-norma mutlak yang melampaui akal manusia.
Endnotes:
1) Elly M. Setiadi, et al, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), 2008.
2) Indra Siswarini, “Memahami Peradaban dan Dinamika Peradaban Indonesia Menghadapi Globalisasi”, makalah lokakarya ISBD, Dikti Depdiknas Batam, tidak diterbitkan.
3) Soetomo, Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2008.
4) B. Simandjuntak, Perubahan Sosio Kultural (Bandung: Tarsito), 1980.
5) Pius A. Partanto & M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola), 1994.
6) B. N. Marbun, Kamus Politik, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan), 1996.
7) M. Fahmi, Islam Transendental: Menelusuri Jejak-Jejak Pemikiran Islam Kuntowijoyo, (Yogyakarta: Pilar Media), 2005.
8) Androe Soedibyo, Kaum Muda, Gaya Hidup, dan Penolakan, dalam Mudji Sutrisno et al, Cultural Studies: Tantangan Bagi Teori-Teori Besar Kebudayaan, (Depok: Koekosan) t.t., 155.
9) Talcott Parsons, Youth in The Context of American Society, t.t., t.p., 1963.
10) “Pemuda Islam”, online, http://www.syahadat.com/artikel/214, 17 November 2008, diakses tanggal 29 Juni 2009.
11) Mawardi & Nur Hidayati, IAD-ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia), 2002.
12) Mudji Sutrisno et al, Cultural Studies: Tantangan Bagi Teori-Teori Besar Kebudayaan, (Depok: Koekosan) t.t.
13) Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya: Al-Jumanatul ‘Ali, Seuntai Mutiara yang Luhur. Bandung: Jumanatul ‘Ali-Art (J-Art), 2005.
14) Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan), 1991.
15) Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), 2004.

Isu Kenaikkan Harga BBM

Seputar pembuatan minyak, pernahkah berpikir kenapa bensin mahal? *sekedar wawasan agar pikiran lebih open minded dengan realita*
1. Harga minyak mentah dunia meroket, lebih dari 100 dollar per barrel. Indonesia memang penghasil minyak, tapi adakah yag tahu bahwa yang menguasai sumur-sumur itu kebanyakan perusahaan luar/perusahaan asing? (Chevron, Texaco, Exxon, dll.) Jadi jika Pertamina ingin mengolah minyak tersebut ternyata juga harus beli!! Oleh karena itu harga minyak mentah sangat berpengaruh/berbanding lurus dengan harga bensin kita. Kita juga impor Arabian Crude Oil buat produksi pelumas, lilin, dan aspal.
2. Pengolahan Crude Oil menjadi bensin itu mahal. Selain rumit, juga harus di destilasi dan di striping. Dia juga butuh reforming (penaikan bilangan oktan) agar sesuai dengan standar bilangan oktan yang diwajibkan, dan proses ini MAHAL. Di reaktor ada 700 m3 katalis (katalis = satu drum = 300 juta) yang berarti bisa ratusan drum, dan itu diganti tiap bulan minimal 1 drum. Belum lagi butuh daya besar untuk bangkitin energi penjalan pabrik. Jadi jika harga bensin dinaikkan menjadi Rp. 6.000-an per liter, itu sudah termasuk MURAH. Coba sejenak bayangkan, jika harga mentahnya saja 100 dollar per barrel (1 barrel = 160 liter) berarti 1 liternya Rp. 5.600,- dan ini belum diolah menjadi bensin. Seharusnya harga bensin itu Rp. 11.000-an agar pabrik bisa mendapatkan profit.
Memang kita diSUBSIDI oleh pemerintah, tapi apakah kita harus selalu bergantung dengan itu? Di mana budaya malu kita? Sudah dimanja dengan SUBSIDI, masih protes juga? Astaghfirullah...
Jadi, BE SMART ya Brada and Sista. Jika kita tidak tahu bagaimana susahnya membuat bensin, alangkah lebih baik diam dan tak perlu berkoar ataupun protes kenaikan harga BBM. Mereka yang berorasi, berkoar, berteriak lantang, bahkan demonstrasi, jangankan mengerti proses pembuatan bensin, pengertian bensin saja belum tentu paham. Tidak ada tendensi mendukung pemerintah atau menafikkan mereka yg protes, tapi ini hanya sebuah wawasan agar kita lebih open minded dengan isu-isu yang diberitakan media dengan realita yg ada. Mari jadilah bangsa Indonesia yang cerdas, sumbangkan pemikiran dan aksi kita, bukan sekedar protes semata :)

Forgive or Forgiven?

Maaf adalah jawaban untuk kegelisahan dan keresahan. Pernahkah anda merasakan kelegaan dan keleluasaan seketika meruang dalam batin tatkala sebuah kesalahan yang telah sekian lama menyumbat dada dan ternetralisir oleh tulusnya kata maaf? Rasa bersalah karena membuat orang kecewa, melukai atau menyakiti orang lain selalu akan meninggalkan kegelisahan dan keresahan pada batin kita. Bahkan terkadang berbagai perasaan negatif itu selalu menghantui dan begitu menyesakkan dada. Kalau sudah seperti itu, nyamankah perasaan kita? Sepertinya tidak.. Sebaliknya, rasa marah dan benci bahkan mungkin saja sampai menyulut perasaan dendam, yang biasanya akan muncul manakala kita merasa dikecewakan, dilukai dan disakiti orang lain. Hal yang hampir sama akan terjadi pada diri kita, yang karena berbahan amarah dan dendam, maka diri kita pun tak akan bisa merasakan yang namanya ketentraman batin.
Gambaran kondisi jiwa yang seperti di atas pastilah pernah atau bahkan sering kita rasakan, karena itu memang manusiawi. Namun sebenarnya solusi dari kondisi itu sangat sederhana, yakni sebuah kata maaf yang tulus. Tapi perlu diingat permaafan yang sesungguhnya hanya akan terjadi kalau ada pihak yang sanggup menyadari kesalahan, yang memiliki jiwa besar plus kedewasaan yang memadai untuk meminta maaf dan juga ada pihak lain yang sanggup menekan keakuannya dan memiliki kesabaran, serta kematangan jiwa yang mempesona untuk bisa memberikan maaf. Demikian juga mungkin gambaran saya, di mana kesadaran akan masih begitu banyaknya hal yang membuat teman-teman atau pengunjung profil saya tidak merasa nyaman, seringkali membuat saya merasakan sesaknya dada tersumbat oleh penyesalan dan rasa bersalah. Sebab bagaimanapun juga saya telah berusaha untuk selalu mempersembahkan yang terbaik, tapi tetap saja akan ada kekurangan yang selalu terjadi, dan oleh karenanya permohonan maaf adalah hal tiada pernah berhenti untuk saya sampaikan sembari saya akan terus menerus berusaha untuk menjadi lebih baik dalam menjalin hubungan pertemanan ataupun hubungan bisnis dengan anda semua.

Gethuk Pisang, Citra Rasa Asli Kediri

Jika anda singgah di Kota Kediri Jawa Timur terasa kurang lengkap bila tidak mencicipi dan membawa pulang oleh-oleh khas yang menjadi cita rasa kota santri ini. Yaitu Gethuk Pisang. Makanan ini sangat familiar bagi masyarakat di sejumlah daerah karena sudah menjadi ikon kuliner Kota Kediri. Kendati hingga sekarang asal-usul maupun pioneer pembuat Gethuk Pisang belum diketahui secara pasti, namun tradisi pembuatan Gethuk Pisang diyakini sudah berlangsung turun-temurun dan diwariskan lintas generasi. Gethuk Pisang asli Kota Kediri memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Tidak seperti lazimnya gethuk, semisal gethuk Magelang yang dikemas dengan plastik atau kertas karton. Gethuk Pisang Kota Kediri kemasannya menggunakan daun pisang, layaknya lemper atau lontong. Daun pisang dipilih sebagai pembungkus karena dipercaya mampu menjaga aroma serta cita rasanya agar lebih tahan lama. Sesuai dengan namanya, Gethuk Pisang bahan pokoknya dari buah pisang. Dibentuk bulat lonjong dengan panjang antara 15 sampai 20 cm dan diameter antara 5 sampai 8 cm. Warnanya merah kecoklatan, kenyal tidak terlalu lembek dan juga tidak begitu keras.
Cara membuatnyapun terbilang cukup sederhana. Biasanya dipilih pisang raja nangka yang masih setengah matang. Keistimewaan pisang raja nangka (dalam mitologi dikenal sebagai pisang sajian khusus untuk raja-raja) adalah aromanya yang khas, yakni perpaduan antara rasa asam dan manis alami. Setelah dikupas, pisang dikukus selama 5 sampai 6 jam hingga warnanya berubah menjadi merah kecoklatan. Kemudian dihaluskan dengan cara ditumbuk hingga menjadi adonan. Dalam prosesnya adonan untuk ukuran satu panci diberi empat sendok gula pasir yang sudah dihaluskan. Ini dimaksudkan untuk menambah rasa manis Gethuk Pisang. Kemudian untuk mengaluskan adonan tersebut digunakan mesin pengaduk khusus seperti mixer ukuran jumbo. Biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit. Langkah selanjutnya adonan diambil kira-kira satu genggaman tangan orang dewasa dan ditaruh di atas daun pisang yang sudah disiapkan sebelumnya. Lalu dibungkus dengan cara digulung secara vertikal dan kemudian disematkan batang lidi pada kedua ujungnya sebagai penahan agar tidak lepas. Jadilah Gethuk Pisang yang dijamin sanggup membuat lidah anda ketagihan. Inilah resep pembuatan Gethuk Pisang asli Kota Kediri yang membedakannya dengan jenis Gethuk yang lain. Karena alami tanpa tambahan zat apapun termasuk bahan pengawet, Gethuk Pisang Kota Kediri hanya bisa bertahan maksimal dua hari pada suhu 30 – 35 0C. Tetapi bisa bertahan empat sampai lima hari jika disimpan di lemari pendingin.
Untuk mendapatkan Gethuk Pisang di Kota Kediri anda tidak akan kesulitan karena dapat ditemukan di berbagai sudut Kota Kediri. Mulai dari pedagang asongan, kios-kios mungil di pinggir jalan, hingga pertokoan pusat oleh-oleh. Beberapa lokasi yang bisa anda kunjungi diantaranya di sentra oleh – oleh khas Kediri di Jalan Pattimura dan Jalan Yos Sudarso. Kemudian di pertokoan dan kios sekitar Alun – Alun, Stasiun KA dan di sekitar Terminal Baru. Bisa juga anda peroleh di kawasan pertokoan Jalan Dhoho, Jalan Brawijaya, Jalan Trunojoyo serta di sejumlah wilayah perbatasan Kota Kediri. Untuk menikmati Gethuk Pisang anda juga tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam karena harganya relatif murah dan sangat terjangkau masyarakat. Untuk sepotong Gethuk Pisang dijual mulai dari Rp. 2.500,- hingga Rp. 5.000,- tergantung ukuran Gethuk Pisangnya.
Bagi masyarakat Kota Kediri, membuat atau memproduksi Gethuk Pisang biasanya dijadikan sebagai usaha industri rumahan (home industry). Salah satu diantaranya adalah Cak Din, warga yang tinggal di Jl. Karanganyar No.45 RT.03/RW.01 Dusun Karanganyar Kelurahan Ngronggo Kecamatan Kota Kediri. Menurut Cak Din dia telah menggeluti jenis usaha home industry ini sejak tahun 2002, Menurutnya usaha atau bisnis Gethuk Pisang memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Hingga saat ini Cak Din sanggup menghidupi keluarganya dari usaha gethuk ini. Bahkan dia bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar tempat tinggalnya. Home Industry Gethuk Pisang milik Cak Din ini juga telah terdaftar pada DEPKES RI No. 130/13.04/94 dengan brand Citra Baru. Pasokan Gethuk Pisang Cak Din tersebar di hampir seluruh daerah, mulai dari pertokoan di sepanjang Jalan Pattimura dan Yos Sudarso dan di lingkup Kota Kediri, hingga merambah daerah perbatasan Kediri seperti Gurah, Pare, Kras, Ngantru, Kandat, Sambi, Papar, Kertosono, dan lain sebagainya.
Jika anda sudah mengetahui cara membuatnya, tidak ada salahnya mencoba kiat sukses Cak Din usaha Gethuk Pisang sebagai peluang bisnis baru di daerah Anda sendiri. Saran saya, datanglah ke Kota Kediri, nikmati kelezatannya, pelajari resepnya, dan jadikan peluang usaha untuk Anda!!! Selamat mencoba!!!

Imajinasi Cinta dalam Benar dan Salah

Saat terpisah, imajinasi adalah penghubung antara dua jiwa yang saling mencintai. Itu sebabnya, kerinduan menghasilkan janji-janji untuk memuliakan satu sama lain, yang belum tentu dipenuhi saat bertemu. Cinta yang sedang terpisah, biasanya memang lebih mesra daripada yang dekat. Karena, imajinasi cenderung membesarkan hanya yang indah dan membutakan diri dari yang akan mengecewakan. Cinta yang dekat dan mesra, sering terbukti hambar setelah pernikahan. Maka lebih berhati-hatilah saat cintamu terpisah jarak. Imajinasi cinta cenderung melebih-lebihkan keindahan. Ketika larut dalam imajinasi dan menyesal setelah tersadar, kita cenderung kesal pada diri sendiri dengan menganggap itu sebagai sebuah kesalahan terbesar yang pernah kita lakukan. Sesungguhnya, bukan kesalahan yang membuat kita kesal kepada diri sendiri, tapi kecenderungan untuk membuat kesalahan yang sama. Karena memang, membuat kesalahan adalah manusiawi, tapi belajar dari sebuah kesalahan untuk tidak mengulanginya adalah kualitas manusia yang bukan rata-rata. Membuat kesalahan yang sama adalah tanda lambannya pendewasaan diri, cara memperpanjang kesulitan dan menunda keberhasilan. Kebenaran itu mutlak, namun demikian benar salah itu relatif. Tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan cara berpikir menjadi sebuah persamaaan dalam mempertahankan ikatan kasih sayang dengan pasangan kita.

Internet versi Clifford Stoll

"Sungguh sebuah semesta yang gaib, sebuah jalinan kekosongan. Meski Internet melambai dengan meriah, menggoda dengan menyingkapkan kain yang menyembunyikan simbol pengetahuan adalah kekuasaan, bayang-bayang ini menggoda kita untuk menyerahkan waktu kita di bumi. Sungguh pengganti yang tak setimpal, realitas virtual ini di mana ribuan frustasi bertempat tinggal dan di mana (atas nama suci Pendidikan dan Kemajuan) aspek-aspek penting interaksi manusia dilecehkan terus menerus".
Silicon Snake Oil karya Clifford Stoll, yang dikutip Roger Fidler dalam Mediamorfosis: Understanding New Media, (California: Pine Forge Press, Thousand Oaks), 1997, halaman 393.
Kutipan di atas adalah keprihatinan dan ketakutan Clifford Stoll - seorang penulis dan astronom - akan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat itu. Prediksinya - terutama tentang manfaat internet bagi masyarakat - pada masa di mana dia hidup hanya dianggap sebagai omong kosong dan lelucon. Sekarang, lebih dari satu dasawarsa, hal yang di prediksikan Stoll nyaris sempurna untuk menjadi nyata. Internet membawa implikasi positif sekaligus negatif pada pelbagai aspek kehidupan manusia, mulai ekonomi; politik; budaya; pendidikan; kesehatan; terutama aspek sosial. Fakta ini mustahil bisa kita ingkari. Yang menarik kemudian adalah, bagaimana jika kita semakin tergantung pada internet - atau dengan kata lain - manusia dikendalikan ilmu pengetahuan dan teknologi? Apakah benar internet memiliki kemampuan untuk mengaburkan batasan antara ruang privat dengan ruang publik? Apakah benar internet memiliki kemampuan untuk menghilangkan sisi manusiawi dalam kehidupan manusia?